My last though in the matter of system-society-way. The seed of your young genius, radical entities. Will face a very thick huge wall. Before they could do something great, they need to survive first. They need someone, something to show them the way. That it is not impossible to do.
With out the glimpse of light, they would only get lost in the dark, and slowly dies and fade away.
~FD
Sunday, January 24, 2010
The Society
Every society need a stable structure for it to be able to grow. But some time that stability if stagnant for a long time. It can drug us with being pro to the status Quo. That attitude could only bring the collapse of the society. We must keep evolving.
That is why, people that has new ideas, free being, radical entity. Must have a way to exist and survive in the society. That is the only way we could survive the test of time.
~FD
That is why, people that has new ideas, free being, radical entity. Must have a way to exist and survive in the society. That is the only way we could survive the test of time.
~FD
The systems
Di analisa D-I-S-C gw tergolong orang yang high S-C. Nilai Stability dan Compliancenya tergolong tinggi. Ini artinya gw termasuk orang yang nyaman berada didalam sebuah struktur yang baku dan sudah memiliki rule dengan standar operating procedurenya.
Tapi sejujurnya semenjak dulu gw selalu memimpikan hidup hidup sebagai seorang laki-laki sejati. Yang dalam kamus gw itu berarti hidup dengan prinsip, hanya menjunjung tinggi kebenaran, dan tidak terbelenggu harta dan posisi. Mengatakan sejujurnya apa yang ada di depan matanya, dan bisa meyadarkan orang-orang banyak untuk hidup di jalan yang benar. That's right, plain old stereotype from comic book of righteous hero.
Padahal kalau dipetakan ke realitas, gw sendiri yakin, bahwa pahlawan2 di buku komik itu tidak bisa 100% bertindak seperti yang mereka lakukan. Too many coincidence, people dies and live is always a bitch. But still... it must be wonderful to live like that. Every morning woke up feeling fresh and happy, living side-by-side with what you truly believe, and every day is pretty good day to die.
Tapi itu semua sepertinya berat untuk bisa hidup di jaman ini. Kita sebagai masyarakat sudah terlalu diperbudak dengan sistem. Kalau tidak mempunya cicilan rumah dan mobil untuk 15 tahun ke depan, tidak bisa hidup layak. Kalau tidak punya asuransi, tidak bisa melahirkan anak. Dan sakit berkepanjangan hanya akan menyeret orang-orang yang kita tinggalkan dengan hutang segunung yang harus dibayarkan ke pihak rumah sakit. And because of that we always live in fear. Bangun setiap pagi memikirkan 10 tahun kedepan,tidak pernah menikmati hari ini, membayangkan apakah kestabilan yang kita miliki ini akan tetap ada ?
Hutang yang membebani kita membuat kita tumpul untuk perduli terhadap sekitar kita. Sisi kemanusiaan semakin terkikis. Bayangkan betapa murahnya harga nyawa seorang manusia di jaman ini. Dengan uang asuransi 100 juta, seakan-akan semua kesedihan keluarga bisa ditebus lunas. 25 tahun pengorbanan membesarkan seorang anak terhapus dengan seuntai kata maaf seremonial tanpa niat yang sudah di ulang sebanyak 100.000 kali.
Bagaimana 1000 nyawa adalah harga yang layak untuk menyelamatkan 1.000.000 orang. Bagaimana nyawa 100 prajurit, 100 suami, 100 ayah adalah harga yang telah disiapkan demi nyawa Satu orang presiden. Kalau kita dilahirkan secara fitrah dan sejajar. Siapakah yang kemudian memberikan nilai jiwa-jiwa manusia ini. Dan siapakah yang melakukan diskon besar-besaran, sale of this century ? Siapakah sebetulnya yang paling mengerti berapa besar harga nyawa seseorang itu, kecuali dirinya sendiri dan mungkin orang tuanya ?
Dan mengapa begitu mudah kita memaafkan pembunuhan atas nama kecelakaan dan kemajuan teknologi. Ketika hukuman diterima hanyalah 3 bulan bermain sinetron dimata publik. Untuk mengulangi kesalahan yang sama 6 bulan kemudian tanpa ada beban moral sedikit pun.
Apakah kita sudah begitu tumpul, hidup bagaikan mayat hidup. Mengikuti perkembangan zaman yang telah ditentukan oleh orang-orang yang tidak mengerti arti mendasar menjadi manusia. Untuk berkata sakit jika kita sakit, untuk berteriak tolong saat kita membutuhkan pertolongan, dan untuk mengulurkan tangan disaat orang lain membutuhkan pertolongan.
So tell me, how to make our selves to wake up from this fake reality.
PS: ada satu frase yang baru gw dengar tapi i fall in love with it immediately
"Kebenaran kadang-kadang tidak terlihat karena tertutup bayangan 'akal sehat'. 'Jangan menyerah', meskipun kata itu sederhana. Pada akhirnya hanya itu yang bisa kita pegang.
~FD
Tapi sejujurnya semenjak dulu gw selalu memimpikan hidup hidup sebagai seorang laki-laki sejati. Yang dalam kamus gw itu berarti hidup dengan prinsip, hanya menjunjung tinggi kebenaran, dan tidak terbelenggu harta dan posisi. Mengatakan sejujurnya apa yang ada di depan matanya, dan bisa meyadarkan orang-orang banyak untuk hidup di jalan yang benar. That's right, plain old stereotype from comic book of righteous hero.
Padahal kalau dipetakan ke realitas, gw sendiri yakin, bahwa pahlawan2 di buku komik itu tidak bisa 100% bertindak seperti yang mereka lakukan. Too many coincidence, people dies and live is always a bitch. But still... it must be wonderful to live like that. Every morning woke up feeling fresh and happy, living side-by-side with what you truly believe, and every day is pretty good day to die.
Tapi itu semua sepertinya berat untuk bisa hidup di jaman ini. Kita sebagai masyarakat sudah terlalu diperbudak dengan sistem. Kalau tidak mempunya cicilan rumah dan mobil untuk 15 tahun ke depan, tidak bisa hidup layak. Kalau tidak punya asuransi, tidak bisa melahirkan anak. Dan sakit berkepanjangan hanya akan menyeret orang-orang yang kita tinggalkan dengan hutang segunung yang harus dibayarkan ke pihak rumah sakit. And because of that we always live in fear. Bangun setiap pagi memikirkan 10 tahun kedepan,tidak pernah menikmati hari ini, membayangkan apakah kestabilan yang kita miliki ini akan tetap ada ?
Hutang yang membebani kita membuat kita tumpul untuk perduli terhadap sekitar kita. Sisi kemanusiaan semakin terkikis. Bayangkan betapa murahnya harga nyawa seorang manusia di jaman ini. Dengan uang asuransi 100 juta, seakan-akan semua kesedihan keluarga bisa ditebus lunas. 25 tahun pengorbanan membesarkan seorang anak terhapus dengan seuntai kata maaf seremonial tanpa niat yang sudah di ulang sebanyak 100.000 kali.
Bagaimana 1000 nyawa adalah harga yang layak untuk menyelamatkan 1.000.000 orang. Bagaimana nyawa 100 prajurit, 100 suami, 100 ayah adalah harga yang telah disiapkan demi nyawa Satu orang presiden. Kalau kita dilahirkan secara fitrah dan sejajar. Siapakah yang kemudian memberikan nilai jiwa-jiwa manusia ini. Dan siapakah yang melakukan diskon besar-besaran, sale of this century ? Siapakah sebetulnya yang paling mengerti berapa besar harga nyawa seseorang itu, kecuali dirinya sendiri dan mungkin orang tuanya ?
Dan mengapa begitu mudah kita memaafkan pembunuhan atas nama kecelakaan dan kemajuan teknologi. Ketika hukuman diterima hanyalah 3 bulan bermain sinetron dimata publik. Untuk mengulangi kesalahan yang sama 6 bulan kemudian tanpa ada beban moral sedikit pun.
Apakah kita sudah begitu tumpul, hidup bagaikan mayat hidup. Mengikuti perkembangan zaman yang telah ditentukan oleh orang-orang yang tidak mengerti arti mendasar menjadi manusia. Untuk berkata sakit jika kita sakit, untuk berteriak tolong saat kita membutuhkan pertolongan, dan untuk mengulurkan tangan disaat orang lain membutuhkan pertolongan.
So tell me, how to make our selves to wake up from this fake reality.
PS: ada satu frase yang baru gw dengar tapi i fall in love with it immediately
"Kebenaran kadang-kadang tidak terlihat karena tertutup bayangan 'akal sehat'. 'Jangan menyerah', meskipun kata itu sederhana. Pada akhirnya hanya itu yang bisa kita pegang.
~FD
Wednesday, January 20, 2010
Money, between ends and means
Kalau ada yang bilang 'gw cari kantor lain dengan gaji yang lebih besar dong', dari sini sudah terlihat indikasi, bahwa bagi dia money menjadi ends. Tujuan utamanya adalah pendapatan yang lebih besar. Faktor-faktor lain seperti environment, work pressure, personal time, it all comes secondary.
Gak salah sih, bisa jadi orang yang berpikiran seperti ini belum tentu karena mata duitan. Tetapi bisa saja karena dia sudah memiliki skill set yang spesifik, tidak banyak alternatif untuk mengembangkan diri, makanya salah satu cara paling tepat untuk memotivasi diri, adalah dengan hal ini.
Tetapi untuk saat ini gw sedang mencoba menggeser perpektif gw terhadap hal ini. Bagaimana agar money menjadi 'sekedar' means untuk hal-hal yang gw lakukan. Apakah itu berarti gw sebelumnya mata duitan ? Gak juga sih, lebih tepatnya adalah ketakutan akan kehilangan pendapatan tetap perbulan. Yang jumlahnya di atas rata-rata itu. And I dont think i can make that kind of money anymore.
Tapi kembali lagi, kalau money sudah menjadi means, jumlahnya sudah tidak terlalu penting lagi. Asal cukup untuk mendanai hal-hal yang ingin lu lakukan, bisa hidup dengan layak, itu sudah lebih dari cukup. Tidak perduli dia turun naik, tidak selalu tiap bulan didapat, atau bahkan tidak sebesar pendapatan sebelumnya. Tapi untuk dapat melakukan hal itu dibutuhkan beberapa hal. Ketabahan yang tinggi dan faith yang bisa membuat tetap bersabar dan percaya bahwa rejeki itu bisa datang dari mana saja.
Tapi satu hal yang pasti gw tahu. Kalau menjadikan money sebagai ends. Hidup gw tidak akan pernah bahagia selamanya :D
~FD
Gak salah sih, bisa jadi orang yang berpikiran seperti ini belum tentu karena mata duitan. Tetapi bisa saja karena dia sudah memiliki skill set yang spesifik, tidak banyak alternatif untuk mengembangkan diri, makanya salah satu cara paling tepat untuk memotivasi diri, adalah dengan hal ini.
Tetapi untuk saat ini gw sedang mencoba menggeser perpektif gw terhadap hal ini. Bagaimana agar money menjadi 'sekedar' means untuk hal-hal yang gw lakukan. Apakah itu berarti gw sebelumnya mata duitan ? Gak juga sih, lebih tepatnya adalah ketakutan akan kehilangan pendapatan tetap perbulan. Yang jumlahnya di atas rata-rata itu. And I dont think i can make that kind of money anymore.
Tapi kembali lagi, kalau money sudah menjadi means, jumlahnya sudah tidak terlalu penting lagi. Asal cukup untuk mendanai hal-hal yang ingin lu lakukan, bisa hidup dengan layak, itu sudah lebih dari cukup. Tidak perduli dia turun naik, tidak selalu tiap bulan didapat, atau bahkan tidak sebesar pendapatan sebelumnya. Tapi untuk dapat melakukan hal itu dibutuhkan beberapa hal. Ketabahan yang tinggi dan faith yang bisa membuat tetap bersabar dan percaya bahwa rejeki itu bisa datang dari mana saja.
Tapi satu hal yang pasti gw tahu. Kalau menjadikan money sebagai ends. Hidup gw tidak akan pernah bahagia selamanya :D
~FD
Collectibles
Kalau ingat 3 tahun lalu, waktu masih bekerja di perusahaan ke dua. Setelah menabung 3 tahun akhirnya mampu beli motor sendiri. Supra-X 125 R :D cash, gak pake kredit-kreditan. Di perusahaan berikutnya dapat parka merah, gak beli sendiri sih. Tapi bisa jadi itu adalah barang paling berharga yang gw punya :P Lalu di company ini, udah dapet PX-100, Kompie baru, si Zotac, sama Hero :D
hm.. dengan adanya barang-barang itu, setidaknya bisa mengingat tangis, darah, dan air mata yang gw cucurkan saat bekerja di tempat-tempat itu. Dan mengingatkan bahwa waktu gw selama ini membawa hasil. Walaupun hasil yang paling besar adalah perubahan dalam diri gw sendiri :D
hm.. dengan adanya barang-barang itu, setidaknya bisa mengingat tangis, darah, dan air mata yang gw cucurkan saat bekerja di tempat-tempat itu. Dan mengingatkan bahwa waktu gw selama ini membawa hasil. Walaupun hasil yang paling besar adalah perubahan dalam diri gw sendiri :D
Saturday, January 16, 2010
Javascript in Tapestry5
Okay, lets start from the beginning.
This is the basic thing that i need to know :
1. how to transfer data between tapestry class and my javascript library
a. from javascript to tapestry page class
b. from page class to javascritp
2. How to invoke
a. javascript from tapestry class
b. tapestry class from javascript.
well so far the answers is :
1a. The easiest way was to create a hidden variable that could be accessed from the class.
1b. Is by returning a JSON object that being invoked by javascript. Something more or less like this,
public JSONArray getArea() {
System.out.println("=== Getting area in javascript ");
List areaMarkers = areaEngine.getAllAreaMarkers();
return jsonProcessor.marshal(areaMarkers);
}
Well for the other two is blank for me :(, I'll update this if i have the answer.
~FD
This is the basic thing that i need to know :
1. how to transfer data between tapestry class and my javascript library
a. from javascript to tapestry page class
b. from page class to javascritp
2. How to invoke
a. javascript from tapestry class
b. tapestry class from javascript.
well so far the answers is :
1a. The easiest way was to create a hidden variable that could be accessed from the class.
1b. Is by returning a JSON object that being invoked by javascript. Something more or less like this,
public JSONArray getArea() {
System.out.println("=== Getting area in javascript ");
List areaMarkers = areaEngine.getAllAreaMarkers();
return jsonProcessor.marshal(areaMarkers);
}
Well for the other two is blank for me :(, I'll update this if i have the answer.
~FD
Wednesday, January 13, 2010
The future journey
this was post around 5 months ago. From that time I've overcome many other panic attack. Live was like a roller coaster. Ups and downs and more in the down side of things. Well I've survived, but its not pretty. And along the way, although you've got accustomed with this things, but slowly but sure this things are taking a toll on me.
I'm not stupid to jump to a decision only based on emotion and short term reaction. Actually I'm a very calculated and often over thinking my decision, scenario A, B, C, D and the backup :P
So that is why after five month of coming to the same conclusion, i finally take it another step. I've informed my team that i was thinking of quitting between April and August. Its not final yet, but with the current condition, I'm hoping that I have the courage to make it into reality.
The truth is I'm scared shitles to the bone. I don't know how to make money after i quit. Yes i have plan A through D, but none of it involved a safe and secure way to make a living. Hell i don't even know if anyone would buy my services or product because my QA skill sucks. And I'm too introvert to have a good network.
But i want to live my life the way i want it. Not living someone else dream. Or following the dogma of others. I want to be happy with who I am, making my existence have an impact to this world. Not merely passing live day by day, and at some point seeing the old days and wondered, where all of my time has gone ?
For all the suffering I've been through, after all the walls that I've taken down. I think i deserves and finally bought one of two years of my live to became who i really am, the true me. Creating things i want to create, exploring things i want to explore, and making sure that i have all of the time i want. I would still be the part of my family, society and the world. But at least now I'm free to the things I want and whenever i wanted to.
So now I pray that 3-6 month from now, I still have the same Courage and Bravery to take my first step to the dangerous road, the open water, the wild world. Fueled with believe and faith and surround by calmness and open mind. And somehow i manage a small smile in the process of writing this. I'm getting excited of the limitless possibility. Maybe, it would be a wonderful journey after all... :)
~FD
I'm not stupid to jump to a decision only based on emotion and short term reaction. Actually I'm a very calculated and often over thinking my decision, scenario A, B, C, D and the backup :P
So that is why after five month of coming to the same conclusion, i finally take it another step. I've informed my team that i was thinking of quitting between April and August. Its not final yet, but with the current condition, I'm hoping that I have the courage to make it into reality.
The truth is I'm scared shitles to the bone. I don't know how to make money after i quit. Yes i have plan A through D, but none of it involved a safe and secure way to make a living. Hell i don't even know if anyone would buy my services or product because my QA skill sucks. And I'm too introvert to have a good network.
But i want to live my life the way i want it. Not living someone else dream. Or following the dogma of others. I want to be happy with who I am, making my existence have an impact to this world. Not merely passing live day by day, and at some point seeing the old days and wondered, where all of my time has gone ?
For all the suffering I've been through, after all the walls that I've taken down. I think i deserves and finally bought one of two years of my live to became who i really am, the true me. Creating things i want to create, exploring things i want to explore, and making sure that i have all of the time i want. I would still be the part of my family, society and the world. But at least now I'm free to the things I want and whenever i wanted to.
So now I pray that 3-6 month from now, I still have the same Courage and Bravery to take my first step to the dangerous road, the open water, the wild world. Fueled with believe and faith and surround by calmness and open mind. And somehow i manage a small smile in the process of writing this. I'm getting excited of the limitless possibility. Maybe, it would be a wonderful journey after all... :)
~FD
Subscribe to:
Posts (Atom)